Ingatan saya selalu kembali pada sebuah frasa penanda tumbuh-belitnya kesadaran masa kecil: “Melahang ne, Mang.” Bahkan sebelum kita tumbuh cukup dewasa untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, kita telah lebih dulu menyerap irama dari rasa kepedulian (cadence of care). Ibu saya akan mengucapkan atau menegaskan kalimat ini setiap kali ada sesuatu yang harus ditangani—baik secara verbal melalui ucapan, maupun secara fisik melalui tindakan. Bagi batin Bali saya, kata melahang melampaui arti harfiah dari sekadar berhati-hati; ia berakar dari kata melah yang berarti baik, patut, atau selaras. Itu adalah sebuah instruksi radikal untuk melangkah dengan penuh kesadaran; sebuah pengingat bahwa dunia ini rapuh dan harus diarungi dengan intensi yang mendalam (deep intention).
Melompat dari domestikasi ingatan masa kecil, ketika Henri Bergson menyatakan bahwa “A mind is a thing that endures” (pikiran adalah sesuatu yang bertahan), saya berasumsi ia sedang menawarkan cara pandang yang progresif tentang waktu. Bertahan di sini bukan sekadar sintas secara biologis. Makna sejati dari bertahan adalah durasi batin kita (duration) — perjalanan personal kita melewati waktu (passage through time) yang mengalir dan berakumulasi. Di sinilah saya melihat titik temu yang intim: tindakan melahang membutuhkan kesadaran mendalam akan waktu. Kita merawat sesuatu karena kita tahu ia memiliki sejarah sekaligus masa depan. Manifestasi pertama dari kesadaran kita adalah kecepatannya sendiri dalam meretas jarak-waktu; sebuah ide kausal (a causal idea), sebuah benih ide yang lahir bahkan sebelum ide itu sendiri mewujud.
Meski terdengar ganjil, premis dari pameran ini bermula tepat di ruang ambang tersebut: di antara peringatan seorang ibu untuk menjaga keharmonisan (melahang) dan kesadaran filosofis bahwa diri kita dibentuk oleh bagaimana kita menanggung waktu. Semua ini berkelindan dalam sebuah kecelakaan fonetis (a phonetic accident), sebuah kesilapan lidah di antara dua bahasa yang justru menyingkap ketegangan sunyi dari geografi yang kita bagi bersama (shared geography). Jembatan antara kata Mélange (percampuran) dan kata Bali Melahang (kehati-hatian) menjelma menjadi sebuah ruang temu kultural antara identitas Indonesia dan Australia yang tidak selamanya berjalan mulus, melainkan kerap menyimpan quiet tension (ketegangan sunyi).
Di satu sisi, kita berhadapan dengan melange: sebuah percampuran, ramuan bebas, suatu kondisi anti-esensialistik yang khas (a distinctively anti-essentialist state) di mana identitas Indonesia dan Australia mengabur dan saling menjerat (blur and entangle). Saya menolak gagasan bahwa identitas itu bersifat tunggal, kaku, atau murni. Dalam konteks pameran ini, kedua kebudayaan dipandang bagai adonan yang diaduk bersama. Namun, benturan budaya batin saya selaku kurator segera mengingatkan: jika kita mencampur sesuatu secara serampangan tanpa mawas diri, hasilnya hanyalah sebuah kekacauan (chaos). Di sinilah prinsip melahang masuk sebagai penyeimbang yang kokoh.
Di sisi lain, bergema sebuah interupsi linguistik dari vernakular lokal masa kecil saya, yaitu kata perintah dalam bahasa Bali: melahang. Ini adalah sebuah seruan untuk menangani sesuatu dengan kehati-hatian, memperbaiki apa yang rusak, atau membelah suatu material secara cermat mengikuti serat alaminya (along its natural grain). Dalam dunia pertukangan tradisional Bali, memperlakukan kayu atau bambu harus selalu mengikuti seratnya agar tidak patah; begitulah cara kita seharusnya memperlakukan kebudayaan. Di dalam ruang gesekan (friction) inilah—antara hasrat tak terkendali untuk mencampuradukkan segala hal dan kebutuhan mendalam untuk tetap mawas diri—pameran ini beroperasi.
Saya adalah orang yang selalu merayakan kata-kata. Namun, kecemasan yang terus menghantui dalam kerja kurasi dan penulisan adalah risiko kehilangan rasa (feelings) atau makna (meanings) di balik kata-kata tersebut. Ketika kita mencoba menjembatani kesenjangan linguistik (linguistic gap), setiap orang akan menangkap untaian benang yang berbeda. Menjelaskan hal-hal abstrak semata-mata melalui bahasa berisiko mengubah nuansa menjadi sebuah pernyataan yang kaku—sebuah kesimpulan yang dipaksakan (a forced conclusion) yang enggan saya amini.
Jika sebuah rasa masih menggantung di udara dan bertahan melampaui teks, maka kerja bahasa berhasil. Jika tidak, kita harus berpaling pada aspek visual dan auditif. Pameran ini adalah upaya untuk mengejawantahkan rasa yang tertinggal itu (lingering feelings), membiarkan aspek visual melakukan kerja kultural yang berat (heavy lifting) di saat kata-kata menemui batasnya, sehingga kita dapat merasakan proses penerjemahan tersebut, alih-alih sekadar membaca teksnya.
Memandang sebuah karya seni adalah upaya kerja (looking is hard work). Jika kita hanya singgah sekilas—hanya memberikan menit yang berlalu atau detik yang pendek—sangat mudah untuk melewatkan esensi seni dengan hanya memandang lalu melanjutkan langkah. Namun sesekali, sesuatu benar-benar memikat dan menarik kita ke dalam. Terlibat dengan seni adalah sebuah laku gerakan, sebuah upaya fisik dan emosional yang mendalam. Terkadang saya berdiri di ruang pameran ini, memposisikan diri sebagai rumah sekaligus harapan bagi perasaan-perasaan tertentu, dan bagi orang-orang yang saya temui. Ini adalah laku hidup untuk mengangkat seseorang (uplifting someone), membawa mereka mendekat dan masuk lebih dalam dengan entitas seni, bukan sekadar menunjuk ke arah objeknya dari kejauhan.
Melange adalah sebuah tindakan bertahan (an act of endurance). Ia menuntut kita untuk menangguhkan hasrat akan penerjemahan yang instan dan mudah, dan sebaliknya, merayakan jarak yang ada di antara kita melalui bentuk keterikatan yang kompleks. Para seniman di sini tidak sekadar melakukan hibridasi budaya yang sederhana; mereka bergerak secara simultan antara merawat (fostering) masa depan dan mengingat (remembering) akar sejarah. Ada komitmen progresif untuk mengasuh ruang kolaboratif yang mendobrak batas, namun lompatan ke depan ini tetap terikat secara tak terpisahkan dengan tutur—transmisi lisan dari narasi-narasi folklorik masa lalu.
Meminjam pemikiran Nicholas Mirzoeff, kita di sini untuk bergulat dengan otonomi citra (autonomy of the image); mencoba untuk melihat bagaimana citra itu melihat dirinya sendiri. Karya-karya seni ini bukanlah objek pasif yang menanti anggukan pemahaman yang formal-sopan (a polite nod of comprehension) dari kita. Mereka memiliki logikanya sendiri. Memahami mereka bukan berarti mencengkeramnya (grasped) lewat definisi yang ketat. Kita harus mengakui bahwa pada saat kita merasa telah "menguasai" suatu momen, keadaan sekitarnya sesungguhnya telah bergeser, membawa kita ke titik di mana kita justru kehilangan pandangan awal.
Noviadi (Untitled, 2026): Kata "jujur sabar" berdiri tegak sebagai pilar-pilar moral yang terbaca jelas (legible moral pillars). Namun, di sekeliling pilar tersebut terdapat inskripsi yang menolak mentah-mentah penerjemahan bahasa formal—getaran energetik yang mewujud di atas kertas linen, bertindak sebagai kekuatan spiritual non-verbal. Ini adalah terjemahan visual dari sebuah rasa yang melampaui kata-kata yang terucap (transcends the spoken word).
Gian Manik (Marouflage, 2020-2021): Gugatan serupa terhadap frustrasi bahasa juga disuarakan lewat karya jahitannya yang menyatukan lembaran kain alas cat yang berbeda-beda—sebagian penuh noda bekas kerja, sebagian masih bersih. Manik menyajikan melange dalam bentuknya yang paling literal. Figur-figur, hewan, dan objek yang jatuh bertumbukan dalam karyanya merepresentasikan betapa sulitnya menarik kosakata visual yang terpecah-pecah (disparate visual vocabularies) ke dalam satu narasi kohesif tanpa harus memaksakan konklusi yang kaku.
Otonomi citra ini tertanam mendalam dalam cara para seniman menangani sejarah dan tradisi melalui laku melahang; Nyoman Darmawan (Benih Kehidupan, 2026): Bergerak di titik persimpangan antara menjaga tradisi seni komunal Pengosekan dan menumbuhkan kesadaran dirinya sendiri secara progresif. Ia tidak sekadar mereplikasi tradisi secara mentah; ia mengeksplorasi dan menyempurnakannya (he refines it), menawarkan sebuah dialog batin yang lepas dari hegemoni dan sekat pembatas yang mengoyak peradaban global dalam konteks yang luas.
Maharani Mancanagara (Allegory of Cornupia #4 and #5, 2026): Melakukan interogasi radikal terhadap narasi-narasi sejarah warisan. Dengan mereplikasi objek-objek pilihan dari Museum Nasional Indonesia menggunakan kayu daur ulang, ia mengonstruksi sebuah kabinet kuriositas (cabinet of curiosities) yang secara berani menggugat "sejarah resmi" (official history). Dengan menyejajarkan objek domestik sehari-hari dengan benda berharga Nusantara, ia mengkritik narasi feodal-nasionalis yang kerap meminggirkan ingatan akar rumput (grassroots memory). Ia mengingatkan kita secara positif bahwa repatriasi bukan melulu soal kepemilikan fisik, melainkan tentang migrasi makna (migration of meaning).
Mia Boe (The Preparations, 2026): Kontestasi atas tanah, pengetahuan, dan sejarah ini berlanjut lewat lukisan minyaknya yang merespons puisi karya Lionel Fogarty (penyair dan aktivis dari suku Yugembah). Boe melacak ketegangan antara ekstraksi pengetahuan dari tanah oleh para peneliti kulit putih (white researchers) dan kehadiran masyarakat suku asli (First Nations) yang eksis secara merdeka di atasnya. Kanvas tersebut bertransformasi menjadi situs gesekan (site of friction) antara ensiklopedia kolonial dan realitas masyarakat adat (Indigenous reality).
Saya sering kali kembali pada sebuah kesadaran personal yang mendasar:
Adaptasi visioner ini mewujud dalam karya Sangeeta Sandrasegar (Within the assembly of the lotus there are no differences (hare, elephant, snake), 2016). Karya keramik berglasirnya, yang mengadaptasi bentuk Toro (lentera batu Jepang), melacak bagaimana vernakular Buddhis berasal dari India dan bermutasi secara radikal seiring rute perjalanannya menjadi bentuk hibrida ikonik (iconic hybrids)—sebuah bukti tentang bagaimana sebuah keyakinan mampu beradaptasi dan melokal di tengah pergulatan dengan zaman baru.
Lebih dekat dengan ekosistem di Bali, Pande Wardina menyoroti beban fisik dari sebuah ritual dalam konsepnya untuk 0.3 Arsitektural Tradisi. Di tengah populasi Bali yang terus tumbuh, ia mempertanyakan limbah organik yang dihasilkan oleh persembahan canang sari harian. Wardina kemudian mengonstruksi sebuah utopia hipotetis yang luar biasa progresif: mengintegrasikan sistem pendingin air (water cooler systems) ke dalam struktur arsitektur pelinggih tradisional untuk memperpanjang usia kesegaran persembahan tersebut. Ini adalah sebuah tindakan melahang yang radikal (radical melahang); sebuah upaya berani untuk mendekonstruksi sekaligus merawat tradisi demi memastikan keberlangsungannya tanpa sedikit pun mengikis esensi spiritualnya.
Keseimbangan antara aspek spiritual dan fisik ini menemukan metafora yang lebih jauh dalam posisi mengudara. Dalam instalasi karya kinetik Kadek Armika seperti Implied (2026), tradisi pembuatan layang-layang Bali dilebur secara mutakhir dengan prinsip arsitektur aeronautika (architectural aeronautics). Memanfaatkan batang fiber dan kertas nilon, Armika menciptakan bentuk-bentuk yang memeluk angin—sebuah perwujudan fisik dari koneksi vertikal antara bumi dan langit. Bagi Armika, terbang bukan sekadar gerakan mekanis; ia adalah sebuah ruang pelipur lara (solace).
Hal ini diiterasi sekaligus diamplifikasi secara konseptual oleh Todd McMillan dalam instalasi video tripartit miliknya, Megorot (2025). Saat menjelajahi resonansi spiritual dari aktivitas menerbangkan layangan, McMillan mencoba mempertemukan konflik semantik dan fonetik (a semantic and phonetic collision). Ia membenturkan krisis filosofis Eksistensialisme ateistik tepat di atas struktur sakral ritual Bali. Selaras dengan teori dekonstruksi Jacques Derrida, layang-layang di sini bermutasi menjadi simbol ketegangan antara pemahaman rasional (comprehension) dan kepasrahan batin (surrender). Karya ini membuat sebuah torehan dalam konteks sejarah objek tersebut untuk menciptakan "lingkaran dialog yang lebih besar", sebuah ruang hampa yang sengaja diciptakan (a deliberate void space) untuk memicu pemaknaan baru.
Galih Adika menangkap rasa waktu yang melengkung (warped sense of time) ini dalam Petals on The Elder Matriarch (2025). Menggunakan cat minyak dan lak di atas lembaran aluminium yang ditekuk, Adika mengacaukan kerataan kanvas konvensional untuk mengeksplorasi Anemoia—sebuah nostalgia atas masa lalu yang tidak pernah dikenal atau dialami langsung oleh seseorang. Logam yang sengaja dibengkokkan itu menegaskan bahwa memori manusia tidak pernah berjalan linear; ia adalah medan yang terus bergeser (shifting terrain) di mana bahasa sering kali lumpuh, namun residu dari bentuk tetap beresonansi.
Proses mengarungi perjalanan waktu (Bergsonian duration) ini juga dialami oleh Isadora Vaughan dalam karyanya Sunrake (2020). Berangkat dari struktur garu jerami pertanian berkarat yang jamak ditemukan di wilayah regional Australia, patung gips cetak dan baja ini menavigasi ruang pameran bagai sebuah kuil ritual kuno yang bersilangan dengan jam matahari (sundial). Dengan membiarkan dirinya mengumpulkan kerak dan karat, karya ini tegak berdiri sebagai artefak ekologis yang kokoh, melawan skala heroik monumen modern dengan merayakan pelapukan sunyi yang tak terelakkan dari sebuah adaptasi (the quiet, inevitable decay of adaptation).
Dialog-dialog yang terajut dalam Melange ini mengarungi kecepatan temporal tersebut, menyiratkan sebuah pesan esensial: bahwa ketika kita hidup di tengah ketidakpastian, kita sebenarnya sedang didorong untuk bertindak jujur dan otentik bagi diri sendiri. Kita dipaksa mengarungi sintasan batin di dalam sebuah kehampaan (navigating the void). Proses ini adakalanya terasa mencekam—harus dilalui lewat rasa mual kecemasan yang mendalam (visceral anxiety) di ulu hati—namun justru diselamatkan oleh alarm alami tubuh: sebuah kehendak murni untuk bertahan hidup (sheer will to endure). Rasa cemas itu adalah bukti otentik bahwa jiwa kita menolak untuk mati rasa.
Sebaliknya, ketika kita memilih berlindung di balik kenyamanan dan kepuasan batin yang statis, kita sering kali tanpa sadar hanya sedang "tampil"; berakting demi memenuhi ekspektasi sosial orang lain (performing for others). Selalu ada belati bermata dua (double-edged dagger) yang mengintai di sini. Sisi pertama menawarkan kehangatan semu dari konformitas (conformity) yang melenakan, sementara sisi tajam lainnya menyimpan teror kehampaan eksistensial yang perlahan membunuh daya kritis kita.
Untuk itu, kita harus memiliki keberanian untuk sesekali menata ulang, bahkan sengaja mengacak orientasi hidup (order and disorder) ini. Kita perlu mengusik kemapanan sendiri agar tidak berakhir menjadi sandera (hostages) dari emosi dan kenyamanan yang membius kreativitas.
Meskipun kita tak pelak menanamkan harapan besar pada hasil akhirnya, nilai-nilai yang paling berharga sebenarnya terletak pada kerelaan batin untuk terjun dan menikmati seluruh prosesnya—sebuah laku pembuatan seni (art-making) yang berjalan beriringan dengan proses penciptaan makna hidup itu sendiri (meaning-making). Kita menolak bergerak maju ke masa depan dengan menyeret "beban mati" (dead weight) dari rasa puas lama yang terperangkap dan mandek. Kita memilih untuk terus melangkah, karena kita sadar sedang dituntun oleh sebuah perjalanan iman yang penuh keajaiban (the whimsical), spekulatif, dan berani membuka ruang baru ke wilayah-wilayah yang belum dipetakan (the unknown).
